Rantingpdiperjuangankedaung’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Megawati says :

Posted by rantingpdiperjuangankedaung pada Juni 10, 2008

Megawati Soekarnoputri

Saya Bersedia Dicalonkan

Jakarta, 10 Sept 2007: “Dengan mengucap bismillahi-rahmanirrahim, saya… saya, Megawati Soekarnoputri, bersedia dicalonkan sebagai presiden dari PDIP,” kata Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri dengan suara haru di tengah sambutan sukacita dan histeris 16.400 kader peserta Rakornas PDIP di Hall A PRJ, Kemayoran, Jakarta 10 September 2007.

Pernyataan yang diucapkan dalam pidato tanpa teks saat menutup Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) PDI-P di Jakarta, Senin (10/9/07) sekitar pukul 20.05, itu langsung disambut gegap gempita peserta Rakornas yang datang dari seluruh Indonesia.

Pernyataan Megawati Soekarnoputri bersedia dicalonkan sebagai presiden pada Pemilihan Presiden 2009 menjadikan dirinya sebagai orang pertama yang secara resmi menyatakan akan maju dalam Pemilihan Presiden 2009.

Setelah sejenak berhenti dan terharu atas sambutan hangat dari para kader PDIP tersebut, Megawati melanjutkan: “Terima kasih. Sampaikan hal ini….” Kata-kata Mega terputus, saking riuhnya sorak-sorai kegembiraan para peserta Rakornas tersebut. Mega pun tidak kuasa melanjutkan kata-katanya. Pelupuk matanya basah, dia menangis terharu melihat respons luar biasa yang muncul dari para kadernya.

Di tengah suasana haru itu, tiba-tiba pembawa acara memberikan aba-aba: “Kita nyanyikan lagu Maju Tak Gentar.” Para kader PDIP pun serentak menyanyikan lagu ciptaan Cornel Simanjuntak itu dengan penuh penghayatan, bersemangat dan haru. Banyak di antara mereka yang meneteskan air mata.

Setelah untaian lirik lagu itu berakhir, Megawati kembali mempertegas kesediaannya itu. Tapi, suasana haru-biru yang menyelimuti ruangan besar itu, membuatnya tidak mampu menuntaskan kata-katanya. “Sekali lagi, sebagai ketua umum partai, saya Megawati Soekarnoputri…,” ujarnya masih terputus. Mega pun terharu dan tampak tidak kuasa menahan tetesan air mata. Suasana haru dan gembira dengan tepuk tangan dan teriakan “Mega presiden”, dan pekik “Merdeka” membahana.

Saat Mega sedang berusaha menenangkan dirinya itu, Taufik Kiemas bangkit dari kursinya dan berjalan pelan ke arah podium. Dia menghampiri Megawati dan mengecup kening sang istri yang semakin haru.

Para kader PDIP pun kembali menyanyikan lagu Maju Tak Gentar hingga dua kali. “Terima kasih. Saya yakin bahwa keseluruhan dari 16.400 orang ini akan memberitahukan keputusan saya sebagai Ketua Umum atau dari pribadi diri saya untuk disampaikan kepada seluruh warga PDIP dan masyarakat Indonesia di mana pun mereka berada,” seru Megawati. “Apakah kalian siap? Apakah kalian akan bekerja keras?” tanya Mega. “Siap, kami siap,” teriak ribuan kader partai membahana.

Megawati kemudian berpesan agar sepulang ke daerah masing-masing, para peserta Rakornas segera mengadakan rapat-rapat untuk menyosialisasikan keputusan Rakernas. “Seluruh jajaran struktural, eksekutif, dan legislatif harus mulai bekerja. Apa yang menjadi bahan evaluasi jangan sampai terjadi lagi,” pesannya.

Sebab, kata Mega, seiring dengan pernyataan kesediaannya, para lawan politiknya pasti segera mengalkulasi konsekuensi keputusan tersebut. Karena itu, seru Mega, kita bertekad merapatkan barisan. “Kita pasti bisa jika kita bersama rakyat. Kita pasti menang. Merdeka. Merdeka. Merdeka,” teriak Mega sekaligus menutup Rakornas PDIP.

Kesediaan Megawati untuk kembali dicalonkan sebagai presiden sebenarnya sudah mulai terbaca saat membuka Rakernas II PDI-P pada 8 September 2007. Kala Megawati mengatakan: “Jawaban saya, insya Allah akan seperti yang ada di dalam sanubari Anda semua.”

Namun, pernyataan kesediaan Megawati itu tetap mengejutkan dan mengharukan pengurus inti dan kader PDI-P. Sebab, Ketua Badan Pemenang Pemilu PDI-P Tjahjo Kumolo, Megawati sama sekali tidak memberi tahu DPP jika dia akan menyampaikan kesediaan malam ini.

“Rumah” Indonesia

Salah satu Rekomendasi Rapat Kerja Nasional (Rakornas) II PDI-P yang juga dibacakan dalam Rakornas PDI-P di PRJ Kemayoran, Jakarta, Senin (10/9/07) adalah kuatnya komitmen PDI-P berketetapan menjadikan dirinya sebagai rumah besar kaum nasionalis. Atas dasar itu, PDI-P mengajak semua elemen untuk menyusun rencana pembangunan Indonesia.

Butir ke-9 rekomendasi itu menyebutkan, “PDI-P berketetapan untuk menjadikan dirinya sebagai rumah besar kaum nasionalis, di mana perbedaan dan keanekaragaman budaya, bahasa, suku, dan agama adalah taman sarinya Indonesia. PDI-P tetap bertekad mengambil peran sebagai pemersatu dan penjaga kebhinnekaan Indonesia”.

PDI-P juga mengajak para cendekiawan, teknokrat, dan para pakar untuk bahu-membahu menyusun rencana pembangunan semesta Indonesia yang dapat dijadikan pedoman bagi seluruh bangsa dalam menatap masa depan Indonesia.

Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDI-P Taufik Kiemas dalam pidato sambutannya mengajak semua kader untuk hidup berdampingan dengan partai lain. “Kita teman dalam bertanding, sahabat dalam bertanding,” ucapnya.
Pada acara penutupan Rakornas tersebut, PDI-P mengundang beberapa tokoh yang sebagian didaulat memberi sambutan untuk menyampaikan pandangannya. Tokoh partai yang hadir dan memberikan sambutan, Ketua Dewan Penasihat Partai Golkar Surya Paloh dan Ketua Majelis Pertimbangan Pusat Partai Persatuan Indonesia (PPP) Bachtiar Chamsyah.

Tokoh pimpinan lembaga negara yang hadir, antara lain, Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Hidayat Nur Wahid, dan Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah. Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso juga hadir.  Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso yang mengenakan dasi merah duduk di deretan kursi terdepan bersama Gubernur Kalteng Teras Narang dan Gubernur Sumut Rudolf Pardede.

Surya Paloh, dalam sambutannya yang tanpa teks dengan spontan memuji PDI-P. “Kalau ada yang bertanya kader mana yang paling militan dan partai mana yang paling kokoh dan bersungguh- sungguh memperjuangkan negara kesatuan, tidak usah bertanya, jawabannya pasti PDI Perjuangan,” ucap Surya Paloh yang disambut gemuruh tepuk tangan hadirin.

Sementara Ketua Majelis Pertimbangan Pusat Partai Persatuan Indonesia (PPP) Bachtiar Chamsyah pun berbagi pengalaman untuk membangun kepartaian di Indonesia. Dia berpesan, belajar dari pengalamannya yang pernah kalah dalam muktamar, dia mengimbau seluruh kader PDI-P agar apabila dalam musyawarah kalah, tidak usah membuat partai baru.

Pada bagian akhir acara, Sekjen PDIP Pramono Anung meminta segenap kader PDIP berturut-turut menyanyikan lagu Bagimu Negeri dan Sorak-Sorak Bergembira. Kemudian keseluruhan acara Rakornas lantas diakhiri dengan pembacaan doa yang dipimpin Ketua Umum PP Baitul Muslimin Indonesia Hamka Haq. ►ti/tsl

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: